Sunday, May 26, 2019

TIPS MOTRET MAKANAN MENARIK

Kita semua tahu bahwa destinasi wisata adalah alasan utama bagi seseorang untuk pergi berwisata ke suatu tempat, namun tak jarang ada juga orang yang sengaja traveling hanya untuk wisata kuliner. Bahkan mereka rela terbang ke lintas negara untuk bisa mencicipi kuliner langsung dari destinasinya. Salah satu contohnya adalah Mark Wiens, si travel food yang keliling dunia hanya untuk makan dan mencicipi kuliner, termasuk kuliner Indonesia.

Mulai dari street food, food truck, hingga toko kue artis. Kuliner kini jadi daya tarik tersendiri saat traveling

tips memotret makanan
Salad pepaya khas Thailand. Foto oleh Astrid febrina rizal
Banyak orang yang bilang kalau ke Bali tidak lengkap jika belum makan Ayam Betutu. Begitu pula saat ke Semarang tidak lengkap jika belum bawa oleh-oleh Wingko Rolls, kuenya Artis Dewi Sandra. Apalagi ke Thailand tidak lengkap kalau wisatawan belum mencicipi street food laba-laba goreng dan jangkrik gorengnya. Rasanya, kini kuliner menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Kuliner adalah opsi penting yang wajib dirasakan saat mampir ke suatu tempat.

Influencer yang konsen membahas kuliner kini jadi idaman

tips memotret kuliner
Mark Wiens, salah seorang influencer di bidang kuliner. Sumber foto
Hidup manusia memang tak pernah jauh dari yang namanya kuliner. Yang terkini, tak hanya untuk memenuhi kebutuhan perut, wisata kuliner lebih dari itu. Banyak orang menjadi terkenal karena mereka kerap mem-foto makanan dan mengulasnya. 

Tips membuat foto makanan yang menarik

cara memotret makanan
Coba tips berikut ini untuk memotret kuliner. Foto oleh Astrid febrina rizal
Menjadi seorang influencer di bidang kuliner gampang-gampang susah. Langkah awalnya, Kamu bisa memulainya dengan belajar fotografi dan mulai mengunggah foto makanan di akun Instagram-mu.
Berikut ini adalah tips menjadi fotografer kuliner dari seorang food photographer Astrid Febrina Rizal yang telah cukup lama menggeluti dunia fotografi:

1. Jika Kamu traveling sambil memotret kuliner, lebih baik pilih kamera Mirrorless saja, lebih ringan dan kemampuannya tak jauh beda dari SLR

cara memotret makanan
Pilih peralatan memotret terlebih dahulu. Foto oleh Astrid febrina rizal
Mirrorless memiliki ukuran yang kecil namun kemampuan menangkap gambarnya setara dengan SLR. Kamu bisa menabung untuk membeli kamera ini sebelum benar-benar terjun ke dunia fotografi kuliner.
Kamu bisa membaca perbandingan mirrorless dan SLR dengan membaca artike berikut ini: Masih Pakai DSLR Saat Traveling? 9 Alasan Ini Akan Membuat Berpindah ke Mirrorless.

2. Cukup siapkan peralatan sederhana, tak perlu flash dan tripod

cara memotret makanan
Siapkan peralatannya. Foto oleh astridfebrinarizal
Untuk mencoba bidang foto makanan, sebenarnya tak harus banyak peralatan. Bisa menggunakan kamera atau smartphone biasa (tapi kalau Kamu ingin fokus di dunia fotografi kuliner, lebih baik segera membeli kamera dan lensa mumpuni). Tidak perlu repot mempersiapkan flash dan tripod karena memotret kuliner akan lebih cantik jika menggunakan pencahayaan matahari karena akan lebih natural.
“Untuk memotret makanan sebenarnya saya tidak memerlukan tripod dan flash karena saya lebih senang memotret di pagi dan siang hari ketika cahaya matahari sangat membantu dalam pencahayaan foto,” ujar Astrid.

3. Cicipi makanan setelah selesai memotret

cara memotret makanan
Sabar dulu, jangan dicoba. Foto oleh Astrid febrina rizal
Untuk membuat foto kuliner yang bagus kuncinya harus sabar dan tahan lapar karena kuliner yang sudah dicicipi biasanya akan terlihat kurang menarik.
“Tips memotet kuliner agar terlihat bagus ya tentu saja makanan yang difoto masih layak untuk difoto alias belum diacak2 atau dimakan,” tambah Astrid.

4. Pintar memilih angle atau sudut pengambilan gambar

cara memotret makanan
Pilih sudut yang terbaik. Foto Astrid febrina rizal
Seperti halnya manusia, kuliner pun punya sudut tertentu yang membuatnya lebih menarik. Pintar dan sabarlah memilih angle atau sudut pengambilan gambar. 
“Yang penting saat belajar membuat foto kuliner adalah mampu melihat sudut yang baik pada saat pengambilan gambar,” ujar Astrid

5. Perhatikan momen

cara memotret makanan
Latih untuk mendapatkan momen terbaik. Foto oleh Astrid febrina rizal
Momen juga menjadi salah satu hal penting dalam pengambilan foto kuliner. Carilah momen itu agar Kamu bisa mendapatkan foto yang kuliner yang bagus. Contohnya adalah momen memasak sate dengan latar bara api, atau momen saat kopi panas di buat dan masih banyak momen yang lainnya.
“Melihat dan menangkap momen bagus yang didukung dengan pencahayaan yang baik yaitu matahari,” ujar Astrid pada tim phinemo.

6. Persiapkan properti yang memadai untuk membuat hasil foto menjadi lebih cantik

cara memotret makanan
Persiapkan peralatan tambahan agar lebih cantik. Foto oleh Astrid febrina rizal
Jika memang kuliner yang akan Kamu potret memang khusus untuk pemotretan, Kamu bisa memberikan warna unik dengan penambahan properti seperti piring saji yang cantik, sendok, teko, alas foto hingga background yang foto yang cocok.
“Jika memang ingin agar makanan nampak lebih cantik memang diperlukan beberapa property untuk mendukung foto tersebut dan itu bisa  beragam seperti contoh: piring penyajian yang cantik, sendok, teko sampai ke alas foto dan background foto yang cocok,” ujar Astrid
Tapi, jika Kamu ingin traveling sambil memotret kuliner, lebih baik andalkan kemampuan memotret karena peralatan seperti sendok, teko, hingga piring cantik tidak mungkin bisa dibawa. Mereka hanya cocok untuk sesi pemotretan di rumah.
“Namun memang hal.ini jarang di gunakan jika ingin memotret kuliner yang lebih bersifat spontan dan on spot. Hal ini hanya berlaku kalau memang kita ingin memotret makanan di rumah dan di tempat yang memang bisa di tata sedemikian rupa,” ujar Astrid.

7. Persiapkan aplikasi edit foto untuk mempercantik hasil jepretan

cara memotret makanan
Kamu bisa membuat warna hasil jepretanmu lebih ciamik dengan aplikasi edit foto. Foto oleh Astrid febrina rizal
“Agar foto tampil bagus di sosial media, dapat juga hasil foto di-edit menggunakan tambahan aplikasi di smartphone yaitu snapseed dan vsco.” Ujar Astrid
Meskipun hasil foto sudah bagus, namun aplikasi edit foto sangat diperlukan untuk membuat foto menjadi lebih terlihat makin bagus.
Astrid memilih aplikasi edit kamera Snapseed dan Vsco. Kamu juga bisa menggunakan aplikasi ini untuk membuat hasil foto makanan Kamu makin bagus.

Tuesday, May 21, 2019

CARA – CARA MENGAMBIL FOTO YANG BAGUS

Mengambil foto yang hasilnya bagus tentu menjadi dambaan bagi setiap orang yang menyukai fotografi. Kebanyakan orang berpikir untuk menghasilkan sebuah foto yang bagus diperlukan kamera baru yang super canggih. Padahal teknik jauh lebih penting dibanding perangkat. Mengambil gambar yang baik dapat dilakukan oleh siapa pun dan dengan kamera apapun asalkan cukup berlatih dan memiliki passion di bidang tersebut. Berikut adalah beberapa cara mengambil foto yang bagus, diantaranya:

  1. Mengkomposisikan subjek (rule of thirds)

Rule of thirds
Komposisi merupakan hal dasar dalam fotografi tentang bagaimana kita menempatkan subjek foto pada bidang foto. Penempatan foto yang sangat umum dilakukan oleh para sebagian pemula yaitu menempatkannya di tengah-tengah bidang foto. Cobalah sesuatu yang berbeda dengan tidak menempatkannya di tengah. Tahap pertama yang harus dilakukan adalah membuat garis imajiner (grid) yang membagi bidang foto ke arah vertikal dan horizontal masing-masing tiga bagian. Penempatan subjek foto pada sepertiga bagian luar grid dapat menguatkan kesan dinamis pada foto, cara ini lebih dikenal dengan istilah rule of thirds.

  1. Atur bidikan foto dengan cermat

cara membidik foto yang bagus
Jangan biarkan hasil fotomu terganggu oleh latar belakang yang akan membuat hasil fotomu terlihat berantakan. Singkirkan latar belakang yang dapat mengacau dan mengganggu. Hindari tampilan pohon seolah-olah tumbuh di atas kepala sebagai latar belakang. Kamu bisa menghindari hal tersebut dengan mengubah arah bidikan foto supaya menghasilkan foto yang lebih baik dan tidak berantakan.

  1. Posisikan tinggi kamera terhadap mata subjek (eyelevel)

cara mengambil foto
Sebisa mungkin hindarilah memotret sambil berdiri terhadap subjek yang lebih rendah daripada kita. Contohnya, saat memotret anak kecil sebaiknya kamu mengambil foto tersebut dalam posisi jongkok sehingga kamera berada setinggi pandangan mata (eye level) anak kecil tersebut.

  1. Manfaatkan flash

manfat flash dalam mengambil foto
Dalam beberapa kondisi, flash dapat meningkatkan kualitas foto yang diambil. Kamu bisa memanfaatkan flash ini pada pemotretan yang dilakukan pada siang hari untuk mengatasi bayangan yang timbul pada subjek foto manusia yang mengganggu di bawah hidung ataupun mata. Teknik ini dikenal dengan istilah fill in flash.

  1. Cobalah sudut yang menarik

cara menggambil sudut foto yang bagus
Jangan hanya terpaku pada pengambilan foto dalam satu sudut tertentu saja. Cobalah bereksperimen dengan mengambil sudut pengambilan foto yang berbeda. Carilah tempat yang memungkinkan kamu berada dalam posisi lebih tinggi atau lebih rendah. Contohnya, kamu bisa menggunakan kursi atau tangga untuk sudut pemotretan yang lebih tinggi, atau berbaring di lantai untuk pengambilan sudut foto yang lebih rendah. Variasi sudut pengambilan gambar ini dapat memudahkan kamu untuk bisa menentukan foto terbaik diantaranya.

12 Tips Memotret dengan Kamera Ponsel

Ponsel sudah berganti nama menjadi telepon cerdas alias smartphone berkat penambahan fitur-fitur di luar kemampuan normalnya. Salah satunya adalah penambahan kamera.

Cukup banyak pengguna smartphone yang hanya mengandalkan ponsel di kamera untuk perangkat dokumentasi dan fotografi. Namun, banyak dari mereka yang kurang puas dengan hasil jepretannya.

Mereka banyak mengeluhkan kualitas hasil fotonya, baik dari segi kualitas gambar maupun kualitas isi foto itu sendiri.

Ingin tahu cara bikin foto bagus dengan smartphone? Berikut 12 tips dari jurnalis multimedia dan fotografer jalanan yang menjadikan iPhone sebagai senjatanya, Richard Koci Hernandez.

1. Ini masalah pencahayaan. Mengambil foto pada kondisi cahaya yang bagus—pagi hari atau menjelang senja—memiliki kemungkinan untuk mengubah foto yang biasa jadi luarbiasa!

2. Jangan gunakan fitur zoom. Hasil zoom dari ponsel sangat buruk dan bisa menjadi awal dari hasil yang buruk. Jika ingin memperoleh gambar yang lebih dekat, mendekatlah dengan kaki Anda, bukan dengan tombol zoom.

3. Kunci eksposur dan fokus. Dengan aplikasi kamera default, tekan/tap dan tahan tombol Shutter. Ketika tanda kotak berkedip, artinya eksposur dan fokus sudah terkunci. Baru ambil gambar dengan menekan penuh tombol shutter atau melepas jari dari layar.

4.  Edit, edit edit. Tahan diri, jangan share semua jepretan Anda. Posting atau share hanya hasil yang bagus agar pengikut Anda, misalnya di Instagram, bertambah. “Kami tidak ingin melihat 1000 foto dari anakmu, tampilkan yang paling bagus saja!”

5. Jangan terlalu menilai tinggi masalah teknik. Latihlah kemampuan Anda melakukan observasi.

6. Belajarlah untuk mengamati dan melihat secara lebih mendalam. Filter tidak bisa menggantikan mata yang baik. Perhatikan momen, cahaya, dan objeknya. Jika Anda akan menambahkan efek sepia, black and white, atau filter lainya nanti, silahkan saja. Untuk keperluan jurnalisme, sebaiknya tinggalkan yang namanya filter itu.

7. Jepret diam-diam untuk mendapat hasil yang alami. Lakukan pengambilan gambar secara diam-diam agar objek manusia tidak tahu bahwa gambarnya sedang diambil. Kecenderungan seseorang ketika tahu sedang difoto adalah bergaya: hasilnya sangat tidak natural.

8. Buat target dan tenggat. Ambil 20 gambar untuk satu benda dari berbagai sudut. Anda akan melihat bahwa dunia tampak berbeda jika dipandang dari sudut yang berbeda. Bahkan jika Anda sekedar berjalan memutari segelas kopi di dapur, akan terlihat bedanya sudut pengambilan gambar dan pencahayaan yang jatuh padanya.

9. Ketahui apa yang ingin Anda lihat sebelum dapat melihatnya. Buat daftar tentang apa yang ingin Anda foto hari ini dan temukan. Cara ini akan mengasah intuisi dan pengalaman Anda.

10. Pelajari cara kerja fotografer lain. Cara fotografer lain mengambil gambar akan menjadi sumber inspirasi bagi Anda. Banyak hal yang sebelumnya tidak terpikirkan menjadi jelas setelah melakukan pengamatan. ATM: amati, tiru, modifikasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

11. Selalu siap. Pastikan saat hati dan pikiran bilang “Shoot!”, kamera Anda telah siap ditekan. Jangan sampai kamera/ponsel Anda masih ada di kantong celana, di dalam tas, atau ketinggalan di toilet.

12. Miliki ponsel atau smartphone berkamera. Kesebelas tips di atas tidak berguna tanpa tips terakhir ini. 

Saturday, May 11, 2019

MENGAPA KITA MEMOTRET ?


MENGAPA KITA MEMOTRET ?

Ketika seseorang melihat selembar foto, apa sebenarnya yang ia lihat? Hanya gambarnya atau cerita dalam gambar tersebut? Atau pesan tertentu dari simbolisasi gambar? Atau kenangan tertentu?


Pada dasarnya selembar foto adalah media ungkapan berkomunikasi seorang fotografer kepada pengamat foto tersebut. Sebuah foto adalah ungkapan bahasa gambar/visual seseorang. Jika kita mengarahkan kamera ke suatu obyek tertentu, dalam benak pemotret akan muncul keinginan memperlihatkan hasil fotonya kepada “seseorang”. Seseorang di sini bisa dirinya sendiri sebagai penikmat, maupun publik secara luas. Keingian bercerita terkadang menjadi kebutuhan seseorang. Sehingga pada saat itulah foto menjadi alat untuk berkomunikasi, sebagai media untuk bercerita.
Dengan foto, seseorang dapat bercerita lebih akurat tentang suatu peristiwa, kegiatan, ekspresi, kenangan, nostalgia, bahkan berbagi ide atau gagasan. Jika ungkapan berbahasa yang disampaikan tidak jelas, maka arti dari peristiwa tersebut pun menjadi kabur.

Untuk dapat mengungkapkan secara baik melalui foto, maka tata bahasa yang digunakan pun harus tepat dan sesuai dengan konteksnya. Tata bahasa dalam bahasa visual fotografi meliputi penerapan teknik, komposisi dan tata cahaya, serta estetika. Aplikasi yang tepat menyebabkan seorang pengamat akan memahami dan mengerti arti ungkapan fotografernya.

Banyak ragam informasi yang dapat diungkapkan pemotret kepada audiensnya, sehingga muncul istilah-istilah dan kategori dalam fotografi yang mengacu pada obyek pemotretannya, seperti: foto pemandangan, foto anak, foto model, foto still life (alam benda), foto produk, foto arsitektur, dan sebagainya. Selain itu muncul juga istilah dalam fotografi yang mengaju pada tujuan pemotretannya, misal: foto komersial, foto seni, foto dokumentasi, foto jurnalistik, foto salon, dan lain sebagainya.


Meskipun demikian pengkotakan kategori tersebut bersifat relatif. Dalam arti, selembar foto dapat berganda kategori. Sebuah foto mbah Maridjan, dapat berarti foto dokumentasi bagi mbah Maridjan sendiri, dapat menjadi foto iklan (komersial) bagi Sido Muncul, dan dapat menjadi foto jurnalistik bagi pewarta foto. Penekanan pada kategori dapat membingungkan pemula, oleh karena itu yang lebih penting adalah menekankan pada tujuan pemotretan dan konsep yang mendasari pemotretan tersebut. Namun demikian jika tenyata digunakan untuk tujuan lain dan memadai, mengapa tidak?

Bagaimanapun sederhananya sebuah tujuan pemotretan, maka yang harus diperhatikan adalah ketrampilan pengoperasian kamera. Menguasai kamera adalah ketrampilan wajib. Setiap kamera memiliki karakteristiknya sendiri, oleh karena itu kamera yang kita miliki harus dipahami cara kerjanya.

Untuk mengerti cara kerja kamera, sebenarnya relatif mudah, yaitu dengan mempelajari manual book-nya. Dalam buku petunjuk penggunaan kamera tersebut, tertulis lengkap bagaimana mempergunakan kamera dan bagaimana perawatannya. Ikuti petunjuknya dengan seksama, maka dijamin kita menjadi pakar tentang kamera tersebut.
Mengerti cara kerja kamera, baru satu ketrampilan dasar. Syarat berikutnya untuk dapat bertutur dengan bahasa visual fotografi adalah ketrampilan mengatur komposisi. Pengaturan komposisi menjadi faktor penting karena sebuah gambar akan dinilai kualitasnya dari cara penyusunan elemen gambar yang ada. Dimana meletakkan obyek utama, bagaimana menjadikan obyek utama menonjol, siapa yang menjadi pusat perhatian, bagaimana mengatur irama, warna, bidang, dan sebagainya.

Ketrampilan dasar yang lain adalah tata cahaya. Meskipun fotografi membutuhkan cahaya, namun bukan sembarang cahaya yang dapat membentuk foto. Ada banyak pengaturan cahaya, yang mendasari pembuatan foto. Baik itu mengenai arah cahaya, maupun kualitas cahayanya. Ada lighting dari depan, samping, maupun dari belakang obyek. Ada juga cahaya yang soft, untuk memotret wanita dan anak-anak, dan cahaya yang hard untuk memotret pria.
Selain itu semua, dibutuhkan juga wawasan estetis dari setiap pemotret. Keindahan apa yang akan diungkapkan, sangat tergantung dari wawasan masing-masing orang. Bagi orang papua, esensi keindahannya tentu berbeda dibanding orang jawa. Oleh karena itu, idiom-idiom dan simbolisasi pun menjadi sangat relatif-subyektif. Semakin luas wawasannya, semakin kaya juga kemampuan daya ungkapnya.

Bagaimanapun juga fotografi adalah bagian tak terpisahkan dari seni rupa. Ada kaidah-kaidah kesenirupaan yang terkandung di dalamnya. Pemotret pun harus memahami unsur-unsur estetis, sehingga fotonya indah dilihat, enak dipandang.


Terakhir, foto tidak hanya indah, namun juga harus implisit ada pesan di dalamnya. Ada sesuatu yang ingin disampaikan. Penikmat pun diharapkan menangkap pesan tersebut, dan merenungi makna yang terkandung.



BAGAIMANA SIH CARA MEMBUAT FOTO BAGUS ?


BAGAIMANA SIH CARA MEMBUAT FOTO BAGUS ?

Pertama-tama sebelum memasuki pembicaraan tentang fotografi dan cara membuat foto yang bagus, maka kita harus menyepakati arti kata bagus itu dulu. Pengertian bagus sangatlah subyektif dan relatif. Karena bagus bagi seseorang belum tentu bagus bagi yang lain. Meskipun demikian, ada benang merah yang bisa kita terapkan untuk mendasari kita menilai sebuah foto. 


Dasar penilaian obyektif dalam menilai sebuah foto adalah teknik-kreatif-komunikatif.

Persoalan teknik menjadi pondasi penciptaan karya foto.
Jika kita melihat sebuah foto tidak fokus, maka foto tersebut tidak bisa kita sebut bagus. Jika pencahayaannya kurang (under exposure), maka secara teknik juga jauh dari bagus. Masalah fokus, pengukuran exposure, pemilihan lensa, kesalahan pemilihan resolusi image, ISO tidak tepat, white balanced menyimpang, dan persoalan lain seputar pengoperasian kamera, adalah ketrampilan penguasaan teknik. Dalam hal ini seorang fotografer harus menguasainya dan menjadibasic atas ketrampilan berikutnya.
Masih di wilayah teknik, adalah penguasaan ketrampilan menatalighting. Fotografi tanpa lighting bukanlah fotografi. Cahaya dibutuhkan fotografer seperti kebutuhan pelukis atas cat atau tinta. Menurut akar katanya, fotografi adalah melukis dengan cahaya. Tidak ada cahaya, fotografer tidak bisa memotret.



Cahaya dibutuhkan tidak hanya karena cahaya adalah bahan terjadinya foto. Namun lebih dari itu, dengan cahaya pula seorang fotografer dapat bercerita lebih baik. Karena dengan cahaya, karakter obyek dapat diungkapkan. Cahaya yang menyinari obyek dapat diarahkan sesuai keinginan fotografer. Bisa dari depan, samping atau belakang. Bisa membuat siluet kalau cahaya dari belakang, bisa memunculkan tekstur kalau cahayanya dari samping atau menyamarkan jerawat kalau cahayanya dari depan.
Cahaya juga dapat memunculkan kesan maskulin jika fotografer menyinari obyek dengan cahaya langsung. Bisa juga berkesan feminin jika obyek disinari dengan cahaya yang sudah dibaurkan atau dipantulkan. Ketrampilan penguasaan tata lighting ini akan menyebabkan seorang fotografer mampu bertutur dengan baik melalui media fotografi.
Selanjutnya adalah ungkapan kreatif-artistik.

Fotografi mau tidak mau adalah salah satu media bagi bahasa komunikasi visual yang masuk dalam khasanah seni rupa. Dengan kamera dan cahaya, seorang fotografer mengungkapkan ide, gagasan dan pesan kreatifnya. Ungkapan kreatif-artistik tersebut dapat terwujud dengan baik, jika penempatan obyek di dalam viewer tertata baik komposisinya. Penataan komposisi ini menjadi basic atas hasil sebuah foto terlihat indah atau tidak. Penataan komposisi yang tidak tepat menjadikan sebuah foto kehilangan gregetnya.


Penataan komposisi adalah masalah sense of art.
Seorang pemula yang ingin menguasai ketrampilan penataan komposisi, harus melalui pelatihan kepekaan rasa. Cara mudah melatih kepekaan rasa melihat adalah dengan learning by seeing.Banyak melihat foto indah atau banyak mengamati lukisan-lukisan indah. Semakin banyak melihat semakin baik. Karena memori melihat gambar yang indah akan menjadi referensi ketika mencipta sebuah foto yang indah.

Berikutnya adalahlearning by doing.
Adalah omong kosong belaka jika belajar fotografi hanya dengan menguasai teorinya saja dengan tidak pernah melakukan pemotretan. Kesempurnaan hanya dapat dicapai dengan banyak latihan. Latihan terbaik adalah memotret. Bawalah kamera kemanapun kita pergi. Potretlah apa pun yang menurut kita layak kita potret. Lakukan pemotretan dengan dasar-dasar teori yang pernah dipelajari. Lakukan pemotretan dengan jangan asal jepret. Sebelum memotret lakukan pengamatan terlebih dahulu.
Lihat, amati, pertimbangkan, arahkan kamera, pilih mode operasional kamera yang sesuai, tunggu saat yang tepat, baru jepret. Pemotretan yang asal jepret akan menghabiskan kapasitas memory card. Selain itu juga akan menjadikan kita sibuk setelahnya, karena akan banyak foto yang akan kita delete. Belum lagi dengan usia kamera yang makin menyusut, karena pemakaian yang berlebihan.
Setelah kita menguasai teknik operasional kamera, lighting, dan komposisi, maka kita tidak akan kesulitan untuk mencoba berkata-kata dengan bahasa fotografi. Masalah teknik adalah tata bahasa. Foto adalah media komunikasi visual. Untuk dapat menguasai bercerita dengan foto maka kita harus menguasai tekniknya dulu. Jika belum apa-apa kita pengin ngomong dengan fotografi padahal kita belum mengerti tekniknya, maka kita berlaku seperti anak kecil yang baru belajar ngomong dan mengeluarkan semua kata yang dikuasainya. Akibatnya, orang lain pun tidak mengerti maksud dari si anak tadi.

Oleh karena itu, belajar teknik adalah mutlak perlu. Belajarlah secara bertahap. Step by step. Jangan tergesa-gesa melangkah ke anak tangga berikutnya jika anak tangga terbawah belum dijejak. Bila memaksa diri maka kita akan menjadi frustrasi dan akan kehilangan kenikmatan melalui proses pembelajaran yang benar. Pelatihan fotografi membutuhkan proses. Belajar fotografi membutuhkan pemahaman teori dan pengendapan rasa. Meskipun tidak ada cara instan belajar fotografi, namun ada cara mudah mencapainya.
Cara termudah belajar fotografi adalah dengan dipandu fotografer senior yang menguasai cara mengajar dengan benar. Banyak fotografer hebat, namun belum tentu hebat ketika mengajarkan ilmunya.
Belajar fotografi bisa secara otodidak, namun akan membutuhkan waktu yang lebih lama dan tidak ada yang mengevaluasi atau membetulkan jika kita salah. Cara termudah adalah dengan bimbingan fotografer lain.
Hanya masalahnya apakah kita dapat mengganggu fotografer senior dengan pertanyaan-pertanyaan kita kapan pun kita mau? Tentu saja tidak! Oleh karena itu pilihlah pembimbing yang memang meluangkan waktunya untuk membimbing pemula. Pilihan terbaik hanyalah melalui kursus fotografi online. Kapan pun kita punya masalah, kita bisa melayangkan email dan meminta penjelasan.Simple dan flexible.
Menjadi seorang fotografer adalah masalah pilihan. Kita mau menjadi fotografer yang mampu membuat foto-foto cantik atau cukup puas dengan foto-foto asal jepret. Jika kita ingin membuat foto indah maka kita harus belajar dengan melalui tahapan tadi. Bila kita hanya ingin memotret dengan asal jepret, maka Anda membuang waktu dengan membaca artikel ini.



Selamat memotret, tapi jangan asal jepret!


KOMPOSISI DASAR DAN SUDUT PENGAMBILAN GAMBAR ( CAMERA ANGLE )


KOMPOSISI DASAR DAN
SUDUT PENGAMBILAN GAMBAR ( CAMERA ANGLE )

Dalam dunia fotografi tidak sedikit fotografer apalagi yang masih pemula, seolah terlena pada hal-hal yang bersifat teknis saja, seperti mengatur bukaan diafragma, pengaturan kecepatan, dan pengaturan jarak. Mungkin juga, selama ini tidak terpikirkan bahwa di dalam foto itu terkandung nilai-nilai tertentu yang dapat membuat foto itu bagus atau sebaliknya menjadi berantakan. Salah satunya adalah pengaturan komposisi. Mungkin belum pernah membayangkan, bahwa dengan pengaturan komposisi sesungguhnya dapat ditonjolkan subjek utama. Bahkan tidak jarang akan mendukung keberhasilan foto-foto yang kita buat.
Definisi Komposisi
Komposisi secara sederhana diartikan sebagai cara menata elemen-elemen dalam gambar, elemen-elemen ini mencakup garis, bentuk, warna, terang dan gelap. Yang paling utama dari aspek komposisi adalah menghasilkan visual impact (sebuah kemampuan untuk menyampaikan perasaan yang anda inginkan untuk berekspresi dalam foto). Dengan komposisi, foto akan tampak lebih menarik dan enak dipandang  dengan pengaturan letak dan perbandaingan objek-objek yang mendukung dalam suatu foto. Dengan demikian perlu menata sedemikian rupa agar tujuan dapat tercapai, apakah itu untuk menyampaikan kesan statis dan diam atau sesuatu mengejutkan. Dalam komposisi selalu ada satu titik perhatian yang pertama menarik perhatian.
Tujuan Mengatur Komposisi Dalam Fotografi
1.    Dengan mengatur komposisi foto, kita juga dapat membangun “mood” suatu foto dan keseimbangan keseluruhan objek foto.
2.    Menyusun perwujudan ide menjadi sebuah penyusunan gambar yang baik sehingga terwujud sebuah kesatuan (unity) dalam karya.
3.    Melatih kepekaan mata untuk menangkap berbagai unsur dan mengasah rasa estetik dalam pribadi pemotret.
Jenis-Jenis Komposisi :
  1. Garis
Komposisi ini terbentuk dari pengemasan garis secara dinamis baik garis lurus, melingkar / melengkung. Biasanya komposisi ini bisa menimbulkan kesan kedalaman dan kesan gerak pada sebuah objek foto. Ketika garis-garis itu digunakan sebagai subjek, yang terjadi adalah foto menjadi menarik perhatian. Tidak penting apakah garis itu lurus, melingkar atau melengkung, membawa mata keluar dari gambar. Yang penting garis-garis itu menjadi dinamis.
  1. Bentuk
Komposisi ini biasanya dipakai fotografer untuk memberikan penekanan secara visual kualitas abstrak terhadap sebuah objek foto. Biasanya bentuk yang paling sering dijadikan sebagai komposisi adalah kotak dan lingkaran.
  1. Warna
Warna memberikan sebuah kesan yang elegan dan dinamis pada sebuah foto apabila dikomposisikan dengan baik. Kadang kala komposisi warna dapat pula memberikan kesan anggun serta mampu dengan sempurna memunculkan “mood color” (keserasian warna) sebuah foto terutama pada foto – foto “pictorial” (Foto yang menonjolkan unsur keindahan)
  1. Gelap dan Terang
Komposisi ini sebenarnya dipakai oleh fotografer pada era fotografi analog masih berkembang pesat terutama pada pemotretan hitam putih. Namun, sekarang ini, ditengah – tengah era digital komposisi ini mulai diterapkan kembali. Kini pengkomposisian gelap dan terang digunakan sebagai penekanan visualitas sebuah objek. Kita dapat menggunakan komposisi ini dengan baik apabila kita mampu memperhatikan kontras sebuah objek dan harus memperhatikan lingkungan sekitar objek yang dirasa mengganggu yang sekiranya menjadikan permainan gelap terang sebuah foto akan hilang.
  1. Tekstur
Yaitu tatanan yang memberikan ksan tentang keadaan prmukaan suatu benda (halus, kasar, beraturan, tidak beraturan, tajam, lembut,dsb). Tekstur akan tampak dari gelap terang atau bayangan dan kontras yang timbul dari pencahayaan pada saat pemotretan.

Penerapan Komposisi Dalam Pemotretan
Dalam pengemasan sebuah foto agar terkesan dinamis dan menimbulkan keserasian perlu sebuah pemahaman tentang kaidah – kaidah tentang komposisi. Yang antara lain:
Ø   Rule of Thirds  (Sepertiga Bagian / Rumus Pertigaan)
Pada aturan umum fotografi, bidang foto sebenarnya dibagi menjadi 9 bagian yang sama. Sepertiga bagian adalah teknik dimana kita menempatkan objek pada sepertiga bagian bidang foto. Hal ini sangat berbeda dengan yang umum dilakukan dimana kita selalu menempatkan objek di tengah-tengah bidang foto

Ø   Sudut Pemotretan (Angle of View)
Salah satu unsur yang membangun sebuah komposisi foto adalah sudut pengambilan objek. Sudut pengambilan objek ini sangat ditentukan oleh tujuan pemotretan. Maka dari itu jika kita mendapatkan satu moment dan ingin mendapatkan hasil yang terbaik,
jangan pernah takut untuk memotret dari berbagai sudut pandang. Mulailah dari yang standar (sejajar dengan objek), kemudian cobalah dengan berbagai sudut pandang dari atas, bawah, samping sampai kepada sudut yang ekstrim.

Ø   Format : Horizontal dan vertikal
Proposi pesrsegi panjang pada view vender pada kamera memungkinkan kita untuk memotret dengan menggunakan format landscape(horisontal) maupun portrait (vertikal). Format pengambilan gambar dapat menimbulkan efek berbeda pada komposisi akhir.
Ø   Dimensi
Meskipun foto bercerita dua dimensi, yang artinya semua terekam diatas satu bidang. Namun, sebenarnya foto dapat dibuat terkesan memiliki kedalaman, seolah-olah dimensi ketiga. Unsur utama membentuk dimensi adalah jarak, Dimensi dapat terbentuk apabila adanya jarak, jika kita menampilkan suatu obyek dalam suatu dimensi maka akan terbentuk jarak dalam setiap elemennya. Untuk membuat suatu dimensi diperlukan adanya permainan ruang tajam, permainan gelap terang dan garis.

Sudut Pengambilan Gambar ( Camera Angle )
Dalam fotografi agar foto yang kita hasilkan memiliki nilai dan terkesan indah harus diperhatikan mengenai masalah penggunaan sudut pengambilan gambar yang baik. Dalam fotografi dikenal 3 sudut pengambilan gambar yang mendasar, yaitu:
§   Bird Eye
Sudut pengambilan gambar ini, posisi objek dibawah / lebih rendah dari kita berdiri. Biasanya sudut pengmbilan gambar ini digunakan untuk menunjukkan apa yang sedang dilakukan objek (HI), elemen apa saja yang ada disekitar objek, dan pemberian kesan perbandingan antara overview (keseluruhan)lingkungan dengan POI (Point Of Interest).
§   High Angle
Pandangan tinggi. artinya, pemotret berada pada posisi yang lebih tinggi dari objek foto.
§   Eye Level
Sudut pengembilan gambar yang dimana objek dan kamera sejajar /  sama seperti mata memandang. Biasanya digunakan untuk menghasilkan kesan menyeluruh dan merata terhadap background sebuah objek, menonjolkan sisi ekspresif dari sebuah objek (HI), dan biasanya sudut pemotretan ini juga dimaksudkan untuk memposisikan kamera sejajar dengan mata objek yang lebih rendah dari pada kita missal, anak – anak.
§   Low Angle
Pemotretan dilakukan dari bawah. Sudut pemotretan yang dimana objek lebih tinggi dari posisi kamera. Sudut pengembilan gambar ini digunakan untuk memotret arsitektur sebuah bagunan agar terkesan kokoh, megah dan menjulang. Namu, tidak menutup kemungkinan dapat pula digunakan untuk pemotretan model agar terkesan elegan dan anggun.
§   Frog Eye
Sudut penglihatan sebatas mata katak. Pada posisi ini kamera berada di dasar bawah, hampir sejajar dengan tanah dan tidak dihadapkan ke atas. Biasanya memotret seperti ini dilakukan dalam peperangan dan untuk memotret flora dan fauna.

Field Of View
Beberapa jenis komposisi yang umum digunakan dari segi ukuran (field of view) yang akan diambil adalah sebagai berikut :
a. Extreme Close Up
Pengambilan gambar yang sangat dekat sekali dengan objek, sehingga detil objek seperti pori-pori kulit akan jelas terlihat.
b. Head Shot
Pengambilan gambar sebatas kepala hingga dagu.
c. Close Up
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga bahu.
d. Medium Close Up
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga dada.
e. Mid Shot (setengah badan)
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga pinggang.
f. Medium Shot (Tiga perempat badan)
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga lutut.

g. Full Shot (Seluruh Badan)
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga kaki.

h. Long Shot
Pengambilan gambar dengan memberikan porsi background atau foreground lebih banyak sehinnga objek terlihat kecil atau jauh.


Beberapa jenis komposisi dari segi banyaknya manusia sebagai objek yang difoto adalah sebagai berikut :
a. One Shot
Pengambilan gambar untuk satu orang sebagai objek.
b. Two Shot
Pengambilan gambar untuk dua orang sebagai objek.
c. Three Shot
Pengambilan gambar untuk tiga orang sebagai objek.
d. Group Shot
Pengambilan gambar untuk sekelompok orang sebagai objek.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan gambar, diantaranya
v  Headroom, merupakan ruang diatas kepala yang berfungsi membatasi bingkai dan bagian atas kepala objek.
v  Noseroom, arah pandang atau ruang gerak objek dalam sebuah frame, bertujuan untuk memberikan ruang pandang sehingga terkesan bahwa objek memang sedang melihat sesuatu.
v  Foreground, segala sesuatu yang menjadi latar depan dari objek.
v  Background, segala sesuatu yang menjadi latar belakang objek.
TIPS HUNTING
  1. Persiapan Awal
1.    Siapkan kamera dan peralatan lain yang di butuhkan (seperti flash, tripot, filter, dll)
2.    Sebelum memulai hunting rencanankan konsep dan obyek apa yang akan diambil.

  1. Pada Saat Hunting
1.    Ambil semua obyek yang memang ada dilokasi dan pikirkan pula apa yang akan di ceritakan pada foto yang akan diambil.
2.    Untuk pemula, mulailah hunting dengan obyek yang beragam dan dasar, seperti landscape, human interest, portrait, arsitektur,dll. Kemudian menuju jenis-jenis foto yang lebih mengarah ke jurnalistik seperti features, spot, essay dan stories.
  1. Pasca Hunting
1.    Setelah hasil hunting jadi, lakukan evaluasi untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan dari hunting kita.
2.    Yang terpenting, lakukan presentasi foto dan pameran untuk menunjukkan hasilhunting kita ke banyak orang.


Sunday, April 23, 2017

COPY LENS

COPY LENS

BAB I
KETENTUAN UMUM
NAMA, WAKTU DAN KEDUDUKAN

Pasal 1

Komunitas ini bernama lengkap Community of Photography Life, Enjoy and Spirit Society UIN Walisongo Semarang disingkat COPY LENS. Kumunitas fotografi kampus yang merupakan wadah bagi mahasiswa penggemar seni fotografi di kampus UIN Walisongo Semarang.
Pasal 2
  1. Komunitas ini resmi dibentuk pada tanggal 10 April 2013
  2. Komunitas ini berkedudukan di UIN Walisongo Semarang

BAB II
AZAS DAN TUJUAN

Pasal 3

AZAS

Community of Photography Life, Enjoy and Spirit Society UIN Walisongo Semarang (COPY LENS) ini berazaskan pada pancasila dan UUD 1945.

Pasal 4

TUJUAN 
Komunitas ini untuk menghimpun juga sebagai wadah belajar dan berkarya bagi para mahasiswa penggemar fotografi serta untuk mengembangkan kemampuan juga keterampilan mengolah rasa untuk mengukir karya-karya artistik yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara.

BAB III
LAMBANG

Pasal 5



1.Deskripsi Lambang
  • Diafragma, yang dilingkari tulisan Community of Photography dan UIN Walisongo Semarang. Merupakan eksistensi fotografi di kampus UIN Walisongo.
  • Dua tangan,  kanan dan kiri yang lebih menyerupai bulu mata. Menegaskan bahwa komunitas ini akan selalu bergandengan tangan saling menjaga. Dengan dua tangan tersebut juga komunitas ini akan menggapai mimpi-mimpinya.
  • Keseluruhan bentuk seolah nampak seperti mata, memiliki arti ketajaman, ketelitian, focun.

2. Deskripsi Warna
  • Merah (Red)    : Keberanian 
  • Hijau   (Green) :Kesuburan, Kehidupan
  • Biru     (Blue)   : Intelektual atau Pengetahuan
  • Emas  (Gold)   : Kejayaan

3. Deskripsi Tulisan
  • COMMUNITY OF PHOTOGRAPHY : COPY LENS merupakan komunitas fotografi.
  • UIN WALISONGO SEMARANG       : Perguruan tinggi dimana COPY LENS berada
  • COPY                                            : Singkatan dari komunitas fotografi dalam pengucapan Bahasa Inggris yaitu Community of Photography.
  • LENS                                             : Singkatan dari Life, Enjoy and Spirit Society Merupakan jargon komunitas, yang mengandung makna menikmati hidup dan tetap memiliki semangat bersosial.
BAB IV
KEANGGOTAAN

Pasal 6

1. Jenis Anggota 

A. Anggota Aktif
  • Anggota Senior       : Merupakan anggota yang selesai masa kepenguruasannya di COPY LENS
  • Pengurus                : Merupakan anggota yang masih menjabat dalam struktur organisasi kepengurusan COPY LENS.
  • Anggota Balamuda : Merupakan anggota yang baru masuk dalam komunitas dan belum menjabat sebagai pengurus COPY LENS.
B. Anggota non-Aktif
  • Alumni  : Anggota komunitas yang telah menyelesaikan tugas sebagai seorang mahasiswa maupun sebagai anggota COPY LENS.
2. Pengangkatan Anggota

A. Perekrutan Anggota Barun(PAB)
Diadakan setahun satu kali yang bertepatan dengan penerimaan mahasiswa baru di UIN Walisongo Semarang.

B. Malam Keakraban PAB (MAKRAB)
Diadakan setelah Balamuda mengikuti 10 kali pertemuan gathering teknik dasar fotografi yang dibuktikan dengan absen kehadiran.

C.Gelar Karya Balamuda
Merupakan pameran fotografi perdana Balamuda dan menjadi salah satu syarat untuk selanjutnya dilantik sebagai anggota COPY LENS. 

D. Pelantikan Anggota
Pelantikan diadakan setelah anggota baru menyelesaikan tahap gelar karya Balamuda dan berhak mendapatkan Kartu Anggota.

3. Penonaktifan Anggota

Anggota COPY LENS yang tidak aktif dalam kegiatan selama satu semester serta tidak ada kontribusi apapun yang diberikan untuk COPY LENS, maka secara resmi anggota tersebut dinonaktifkan atau dikeluarkan dari komunitas.




SALAM CEKREK CEKREK
semangART