Tuesday, May 21, 2019

12 Tips Memotret dengan Kamera Ponsel

Ponsel sudah berganti nama menjadi telepon cerdas alias smartphone berkat penambahan fitur-fitur di luar kemampuan normalnya. Salah satunya adalah penambahan kamera.

Cukup banyak pengguna smartphone yang hanya mengandalkan ponsel di kamera untuk perangkat dokumentasi dan fotografi. Namun, banyak dari mereka yang kurang puas dengan hasil jepretannya.

Mereka banyak mengeluhkan kualitas hasil fotonya, baik dari segi kualitas gambar maupun kualitas isi foto itu sendiri.

Ingin tahu cara bikin foto bagus dengan smartphone? Berikut 12 tips dari jurnalis multimedia dan fotografer jalanan yang menjadikan iPhone sebagai senjatanya, Richard Koci Hernandez.

1. Ini masalah pencahayaan. Mengambil foto pada kondisi cahaya yang bagus—pagi hari atau menjelang senja—memiliki kemungkinan untuk mengubah foto yang biasa jadi luarbiasa!

2. Jangan gunakan fitur zoom. Hasil zoom dari ponsel sangat buruk dan bisa menjadi awal dari hasil yang buruk. Jika ingin memperoleh gambar yang lebih dekat, mendekatlah dengan kaki Anda, bukan dengan tombol zoom.

3. Kunci eksposur dan fokus. Dengan aplikasi kamera default, tekan/tap dan tahan tombol Shutter. Ketika tanda kotak berkedip, artinya eksposur dan fokus sudah terkunci. Baru ambil gambar dengan menekan penuh tombol shutter atau melepas jari dari layar.

4.  Edit, edit edit. Tahan diri, jangan share semua jepretan Anda. Posting atau share hanya hasil yang bagus agar pengikut Anda, misalnya di Instagram, bertambah. “Kami tidak ingin melihat 1000 foto dari anakmu, tampilkan yang paling bagus saja!”

5. Jangan terlalu menilai tinggi masalah teknik. Latihlah kemampuan Anda melakukan observasi.

6. Belajarlah untuk mengamati dan melihat secara lebih mendalam. Filter tidak bisa menggantikan mata yang baik. Perhatikan momen, cahaya, dan objeknya. Jika Anda akan menambahkan efek sepia, black and white, atau filter lainya nanti, silahkan saja. Untuk keperluan jurnalisme, sebaiknya tinggalkan yang namanya filter itu.

7. Jepret diam-diam untuk mendapat hasil yang alami. Lakukan pengambilan gambar secara diam-diam agar objek manusia tidak tahu bahwa gambarnya sedang diambil. Kecenderungan seseorang ketika tahu sedang difoto adalah bergaya: hasilnya sangat tidak natural.

8. Buat target dan tenggat. Ambil 20 gambar untuk satu benda dari berbagai sudut. Anda akan melihat bahwa dunia tampak berbeda jika dipandang dari sudut yang berbeda. Bahkan jika Anda sekedar berjalan memutari segelas kopi di dapur, akan terlihat bedanya sudut pengambilan gambar dan pencahayaan yang jatuh padanya.

9. Ketahui apa yang ingin Anda lihat sebelum dapat melihatnya. Buat daftar tentang apa yang ingin Anda foto hari ini dan temukan. Cara ini akan mengasah intuisi dan pengalaman Anda.

10. Pelajari cara kerja fotografer lain. Cara fotografer lain mengambil gambar akan menjadi sumber inspirasi bagi Anda. Banyak hal yang sebelumnya tidak terpikirkan menjadi jelas setelah melakukan pengamatan. ATM: amati, tiru, modifikasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

11. Selalu siap. Pastikan saat hati dan pikiran bilang “Shoot!”, kamera Anda telah siap ditekan. Jangan sampai kamera/ponsel Anda masih ada di kantong celana, di dalam tas, atau ketinggalan di toilet.

12. Miliki ponsel atau smartphone berkamera. Kesebelas tips di atas tidak berguna tanpa tips terakhir ini. 

Saturday, May 11, 2019

MENGAPA KITA MEMOTRET ?


MENGAPA KITA MEMOTRET ?

Ketika seseorang melihat selembar foto, apa sebenarnya yang ia lihat? Hanya gambarnya atau cerita dalam gambar tersebut? Atau pesan tertentu dari simbolisasi gambar? Atau kenangan tertentu?


Pada dasarnya selembar foto adalah media ungkapan berkomunikasi seorang fotografer kepada pengamat foto tersebut. Sebuah foto adalah ungkapan bahasa gambar/visual seseorang. Jika kita mengarahkan kamera ke suatu obyek tertentu, dalam benak pemotret akan muncul keinginan memperlihatkan hasil fotonya kepada “seseorang”. Seseorang di sini bisa dirinya sendiri sebagai penikmat, maupun publik secara luas. Keingian bercerita terkadang menjadi kebutuhan seseorang. Sehingga pada saat itulah foto menjadi alat untuk berkomunikasi, sebagai media untuk bercerita.
Dengan foto, seseorang dapat bercerita lebih akurat tentang suatu peristiwa, kegiatan, ekspresi, kenangan, nostalgia, bahkan berbagi ide atau gagasan. Jika ungkapan berbahasa yang disampaikan tidak jelas, maka arti dari peristiwa tersebut pun menjadi kabur.

Untuk dapat mengungkapkan secara baik melalui foto, maka tata bahasa yang digunakan pun harus tepat dan sesuai dengan konteksnya. Tata bahasa dalam bahasa visual fotografi meliputi penerapan teknik, komposisi dan tata cahaya, serta estetika. Aplikasi yang tepat menyebabkan seorang pengamat akan memahami dan mengerti arti ungkapan fotografernya.

Banyak ragam informasi yang dapat diungkapkan pemotret kepada audiensnya, sehingga muncul istilah-istilah dan kategori dalam fotografi yang mengacu pada obyek pemotretannya, seperti: foto pemandangan, foto anak, foto model, foto still life (alam benda), foto produk, foto arsitektur, dan sebagainya. Selain itu muncul juga istilah dalam fotografi yang mengaju pada tujuan pemotretannya, misal: foto komersial, foto seni, foto dokumentasi, foto jurnalistik, foto salon, dan lain sebagainya.


Meskipun demikian pengkotakan kategori tersebut bersifat relatif. Dalam arti, selembar foto dapat berganda kategori. Sebuah foto mbah Maridjan, dapat berarti foto dokumentasi bagi mbah Maridjan sendiri, dapat menjadi foto iklan (komersial) bagi Sido Muncul, dan dapat menjadi foto jurnalistik bagi pewarta foto. Penekanan pada kategori dapat membingungkan pemula, oleh karena itu yang lebih penting adalah menekankan pada tujuan pemotretan dan konsep yang mendasari pemotretan tersebut. Namun demikian jika tenyata digunakan untuk tujuan lain dan memadai, mengapa tidak?

Bagaimanapun sederhananya sebuah tujuan pemotretan, maka yang harus diperhatikan adalah ketrampilan pengoperasian kamera. Menguasai kamera adalah ketrampilan wajib. Setiap kamera memiliki karakteristiknya sendiri, oleh karena itu kamera yang kita miliki harus dipahami cara kerjanya.

Untuk mengerti cara kerja kamera, sebenarnya relatif mudah, yaitu dengan mempelajari manual book-nya. Dalam buku petunjuk penggunaan kamera tersebut, tertulis lengkap bagaimana mempergunakan kamera dan bagaimana perawatannya. Ikuti petunjuknya dengan seksama, maka dijamin kita menjadi pakar tentang kamera tersebut.
Mengerti cara kerja kamera, baru satu ketrampilan dasar. Syarat berikutnya untuk dapat bertutur dengan bahasa visual fotografi adalah ketrampilan mengatur komposisi. Pengaturan komposisi menjadi faktor penting karena sebuah gambar akan dinilai kualitasnya dari cara penyusunan elemen gambar yang ada. Dimana meletakkan obyek utama, bagaimana menjadikan obyek utama menonjol, siapa yang menjadi pusat perhatian, bagaimana mengatur irama, warna, bidang, dan sebagainya.

Ketrampilan dasar yang lain adalah tata cahaya. Meskipun fotografi membutuhkan cahaya, namun bukan sembarang cahaya yang dapat membentuk foto. Ada banyak pengaturan cahaya, yang mendasari pembuatan foto. Baik itu mengenai arah cahaya, maupun kualitas cahayanya. Ada lighting dari depan, samping, maupun dari belakang obyek. Ada juga cahaya yang soft, untuk memotret wanita dan anak-anak, dan cahaya yang hard untuk memotret pria.
Selain itu semua, dibutuhkan juga wawasan estetis dari setiap pemotret. Keindahan apa yang akan diungkapkan, sangat tergantung dari wawasan masing-masing orang. Bagi orang papua, esensi keindahannya tentu berbeda dibanding orang jawa. Oleh karena itu, idiom-idiom dan simbolisasi pun menjadi sangat relatif-subyektif. Semakin luas wawasannya, semakin kaya juga kemampuan daya ungkapnya.

Bagaimanapun juga fotografi adalah bagian tak terpisahkan dari seni rupa. Ada kaidah-kaidah kesenirupaan yang terkandung di dalamnya. Pemotret pun harus memahami unsur-unsur estetis, sehingga fotonya indah dilihat, enak dipandang.


Terakhir, foto tidak hanya indah, namun juga harus implisit ada pesan di dalamnya. Ada sesuatu yang ingin disampaikan. Penikmat pun diharapkan menangkap pesan tersebut, dan merenungi makna yang terkandung.



BAGAIMANA SIH CARA MEMBUAT FOTO BAGUS ?


BAGAIMANA SIH CARA MEMBUAT FOTO BAGUS ?

Pertama-tama sebelum memasuki pembicaraan tentang fotografi dan cara membuat foto yang bagus, maka kita harus menyepakati arti kata bagus itu dulu. Pengertian bagus sangatlah subyektif dan relatif. Karena bagus bagi seseorang belum tentu bagus bagi yang lain. Meskipun demikian, ada benang merah yang bisa kita terapkan untuk mendasari kita menilai sebuah foto. 


Dasar penilaian obyektif dalam menilai sebuah foto adalah teknik-kreatif-komunikatif.

Persoalan teknik menjadi pondasi penciptaan karya foto.
Jika kita melihat sebuah foto tidak fokus, maka foto tersebut tidak bisa kita sebut bagus. Jika pencahayaannya kurang (under exposure), maka secara teknik juga jauh dari bagus. Masalah fokus, pengukuran exposure, pemilihan lensa, kesalahan pemilihan resolusi image, ISO tidak tepat, white balanced menyimpang, dan persoalan lain seputar pengoperasian kamera, adalah ketrampilan penguasaan teknik. Dalam hal ini seorang fotografer harus menguasainya dan menjadibasic atas ketrampilan berikutnya.
Masih di wilayah teknik, adalah penguasaan ketrampilan menatalighting. Fotografi tanpa lighting bukanlah fotografi. Cahaya dibutuhkan fotografer seperti kebutuhan pelukis atas cat atau tinta. Menurut akar katanya, fotografi adalah melukis dengan cahaya. Tidak ada cahaya, fotografer tidak bisa memotret.



Cahaya dibutuhkan tidak hanya karena cahaya adalah bahan terjadinya foto. Namun lebih dari itu, dengan cahaya pula seorang fotografer dapat bercerita lebih baik. Karena dengan cahaya, karakter obyek dapat diungkapkan. Cahaya yang menyinari obyek dapat diarahkan sesuai keinginan fotografer. Bisa dari depan, samping atau belakang. Bisa membuat siluet kalau cahaya dari belakang, bisa memunculkan tekstur kalau cahayanya dari samping atau menyamarkan jerawat kalau cahayanya dari depan.
Cahaya juga dapat memunculkan kesan maskulin jika fotografer menyinari obyek dengan cahaya langsung. Bisa juga berkesan feminin jika obyek disinari dengan cahaya yang sudah dibaurkan atau dipantulkan. Ketrampilan penguasaan tata lighting ini akan menyebabkan seorang fotografer mampu bertutur dengan baik melalui media fotografi.
Selanjutnya adalah ungkapan kreatif-artistik.

Fotografi mau tidak mau adalah salah satu media bagi bahasa komunikasi visual yang masuk dalam khasanah seni rupa. Dengan kamera dan cahaya, seorang fotografer mengungkapkan ide, gagasan dan pesan kreatifnya. Ungkapan kreatif-artistik tersebut dapat terwujud dengan baik, jika penempatan obyek di dalam viewer tertata baik komposisinya. Penataan komposisi ini menjadi basic atas hasil sebuah foto terlihat indah atau tidak. Penataan komposisi yang tidak tepat menjadikan sebuah foto kehilangan gregetnya.


Penataan komposisi adalah masalah sense of art.
Seorang pemula yang ingin menguasai ketrampilan penataan komposisi, harus melalui pelatihan kepekaan rasa. Cara mudah melatih kepekaan rasa melihat adalah dengan learning by seeing.Banyak melihat foto indah atau banyak mengamati lukisan-lukisan indah. Semakin banyak melihat semakin baik. Karena memori melihat gambar yang indah akan menjadi referensi ketika mencipta sebuah foto yang indah.

Berikutnya adalahlearning by doing.
Adalah omong kosong belaka jika belajar fotografi hanya dengan menguasai teorinya saja dengan tidak pernah melakukan pemotretan. Kesempurnaan hanya dapat dicapai dengan banyak latihan. Latihan terbaik adalah memotret. Bawalah kamera kemanapun kita pergi. Potretlah apa pun yang menurut kita layak kita potret. Lakukan pemotretan dengan dasar-dasar teori yang pernah dipelajari. Lakukan pemotretan dengan jangan asal jepret. Sebelum memotret lakukan pengamatan terlebih dahulu.
Lihat, amati, pertimbangkan, arahkan kamera, pilih mode operasional kamera yang sesuai, tunggu saat yang tepat, baru jepret. Pemotretan yang asal jepret akan menghabiskan kapasitas memory card. Selain itu juga akan menjadikan kita sibuk setelahnya, karena akan banyak foto yang akan kita delete. Belum lagi dengan usia kamera yang makin menyusut, karena pemakaian yang berlebihan.
Setelah kita menguasai teknik operasional kamera, lighting, dan komposisi, maka kita tidak akan kesulitan untuk mencoba berkata-kata dengan bahasa fotografi. Masalah teknik adalah tata bahasa. Foto adalah media komunikasi visual. Untuk dapat menguasai bercerita dengan foto maka kita harus menguasai tekniknya dulu. Jika belum apa-apa kita pengin ngomong dengan fotografi padahal kita belum mengerti tekniknya, maka kita berlaku seperti anak kecil yang baru belajar ngomong dan mengeluarkan semua kata yang dikuasainya. Akibatnya, orang lain pun tidak mengerti maksud dari si anak tadi.

Oleh karena itu, belajar teknik adalah mutlak perlu. Belajarlah secara bertahap. Step by step. Jangan tergesa-gesa melangkah ke anak tangga berikutnya jika anak tangga terbawah belum dijejak. Bila memaksa diri maka kita akan menjadi frustrasi dan akan kehilangan kenikmatan melalui proses pembelajaran yang benar. Pelatihan fotografi membutuhkan proses. Belajar fotografi membutuhkan pemahaman teori dan pengendapan rasa. Meskipun tidak ada cara instan belajar fotografi, namun ada cara mudah mencapainya.
Cara termudah belajar fotografi adalah dengan dipandu fotografer senior yang menguasai cara mengajar dengan benar. Banyak fotografer hebat, namun belum tentu hebat ketika mengajarkan ilmunya.
Belajar fotografi bisa secara otodidak, namun akan membutuhkan waktu yang lebih lama dan tidak ada yang mengevaluasi atau membetulkan jika kita salah. Cara termudah adalah dengan bimbingan fotografer lain.
Hanya masalahnya apakah kita dapat mengganggu fotografer senior dengan pertanyaan-pertanyaan kita kapan pun kita mau? Tentu saja tidak! Oleh karena itu pilihlah pembimbing yang memang meluangkan waktunya untuk membimbing pemula. Pilihan terbaik hanyalah melalui kursus fotografi online. Kapan pun kita punya masalah, kita bisa melayangkan email dan meminta penjelasan.Simple dan flexible.
Menjadi seorang fotografer adalah masalah pilihan. Kita mau menjadi fotografer yang mampu membuat foto-foto cantik atau cukup puas dengan foto-foto asal jepret. Jika kita ingin membuat foto indah maka kita harus belajar dengan melalui tahapan tadi. Bila kita hanya ingin memotret dengan asal jepret, maka Anda membuang waktu dengan membaca artikel ini.



Selamat memotret, tapi jangan asal jepret!


KOMPOSISI DASAR DAN SUDUT PENGAMBILAN GAMBAR ( CAMERA ANGLE )


KOMPOSISI DASAR DAN
SUDUT PENGAMBILAN GAMBAR ( CAMERA ANGLE )

Dalam dunia fotografi tidak sedikit fotografer apalagi yang masih pemula, seolah terlena pada hal-hal yang bersifat teknis saja, seperti mengatur bukaan diafragma, pengaturan kecepatan, dan pengaturan jarak. Mungkin juga, selama ini tidak terpikirkan bahwa di dalam foto itu terkandung nilai-nilai tertentu yang dapat membuat foto itu bagus atau sebaliknya menjadi berantakan. Salah satunya adalah pengaturan komposisi. Mungkin belum pernah membayangkan, bahwa dengan pengaturan komposisi sesungguhnya dapat ditonjolkan subjek utama. Bahkan tidak jarang akan mendukung keberhasilan foto-foto yang kita buat.
Definisi Komposisi
Komposisi secara sederhana diartikan sebagai cara menata elemen-elemen dalam gambar, elemen-elemen ini mencakup garis, bentuk, warna, terang dan gelap. Yang paling utama dari aspek komposisi adalah menghasilkan visual impact (sebuah kemampuan untuk menyampaikan perasaan yang anda inginkan untuk berekspresi dalam foto). Dengan komposisi, foto akan tampak lebih menarik dan enak dipandang  dengan pengaturan letak dan perbandaingan objek-objek yang mendukung dalam suatu foto. Dengan demikian perlu menata sedemikian rupa agar tujuan dapat tercapai, apakah itu untuk menyampaikan kesan statis dan diam atau sesuatu mengejutkan. Dalam komposisi selalu ada satu titik perhatian yang pertama menarik perhatian.
Tujuan Mengatur Komposisi Dalam Fotografi
1.    Dengan mengatur komposisi foto, kita juga dapat membangun “mood” suatu foto dan keseimbangan keseluruhan objek foto.
2.    Menyusun perwujudan ide menjadi sebuah penyusunan gambar yang baik sehingga terwujud sebuah kesatuan (unity) dalam karya.
3.    Melatih kepekaan mata untuk menangkap berbagai unsur dan mengasah rasa estetik dalam pribadi pemotret.
Jenis-Jenis Komposisi :
  1. Garis
Komposisi ini terbentuk dari pengemasan garis secara dinamis baik garis lurus, melingkar / melengkung. Biasanya komposisi ini bisa menimbulkan kesan kedalaman dan kesan gerak pada sebuah objek foto. Ketika garis-garis itu digunakan sebagai subjek, yang terjadi adalah foto menjadi menarik perhatian. Tidak penting apakah garis itu lurus, melingkar atau melengkung, membawa mata keluar dari gambar. Yang penting garis-garis itu menjadi dinamis.
  1. Bentuk
Komposisi ini biasanya dipakai fotografer untuk memberikan penekanan secara visual kualitas abstrak terhadap sebuah objek foto. Biasanya bentuk yang paling sering dijadikan sebagai komposisi adalah kotak dan lingkaran.
  1. Warna
Warna memberikan sebuah kesan yang elegan dan dinamis pada sebuah foto apabila dikomposisikan dengan baik. Kadang kala komposisi warna dapat pula memberikan kesan anggun serta mampu dengan sempurna memunculkan “mood color” (keserasian warna) sebuah foto terutama pada foto – foto “pictorial” (Foto yang menonjolkan unsur keindahan)
  1. Gelap dan Terang
Komposisi ini sebenarnya dipakai oleh fotografer pada era fotografi analog masih berkembang pesat terutama pada pemotretan hitam putih. Namun, sekarang ini, ditengah – tengah era digital komposisi ini mulai diterapkan kembali. Kini pengkomposisian gelap dan terang digunakan sebagai penekanan visualitas sebuah objek. Kita dapat menggunakan komposisi ini dengan baik apabila kita mampu memperhatikan kontras sebuah objek dan harus memperhatikan lingkungan sekitar objek yang dirasa mengganggu yang sekiranya menjadikan permainan gelap terang sebuah foto akan hilang.
  1. Tekstur
Yaitu tatanan yang memberikan ksan tentang keadaan prmukaan suatu benda (halus, kasar, beraturan, tidak beraturan, tajam, lembut,dsb). Tekstur akan tampak dari gelap terang atau bayangan dan kontras yang timbul dari pencahayaan pada saat pemotretan.

Penerapan Komposisi Dalam Pemotretan
Dalam pengemasan sebuah foto agar terkesan dinamis dan menimbulkan keserasian perlu sebuah pemahaman tentang kaidah – kaidah tentang komposisi. Yang antara lain:
Ø   Rule of Thirds  (Sepertiga Bagian / Rumus Pertigaan)
Pada aturan umum fotografi, bidang foto sebenarnya dibagi menjadi 9 bagian yang sama. Sepertiga bagian adalah teknik dimana kita menempatkan objek pada sepertiga bagian bidang foto. Hal ini sangat berbeda dengan yang umum dilakukan dimana kita selalu menempatkan objek di tengah-tengah bidang foto

Ø   Sudut Pemotretan (Angle of View)
Salah satu unsur yang membangun sebuah komposisi foto adalah sudut pengambilan objek. Sudut pengambilan objek ini sangat ditentukan oleh tujuan pemotretan. Maka dari itu jika kita mendapatkan satu moment dan ingin mendapatkan hasil yang terbaik,
jangan pernah takut untuk memotret dari berbagai sudut pandang. Mulailah dari yang standar (sejajar dengan objek), kemudian cobalah dengan berbagai sudut pandang dari atas, bawah, samping sampai kepada sudut yang ekstrim.

Ø   Format : Horizontal dan vertikal
Proposi pesrsegi panjang pada view vender pada kamera memungkinkan kita untuk memotret dengan menggunakan format landscape(horisontal) maupun portrait (vertikal). Format pengambilan gambar dapat menimbulkan efek berbeda pada komposisi akhir.
Ø   Dimensi
Meskipun foto bercerita dua dimensi, yang artinya semua terekam diatas satu bidang. Namun, sebenarnya foto dapat dibuat terkesan memiliki kedalaman, seolah-olah dimensi ketiga. Unsur utama membentuk dimensi adalah jarak, Dimensi dapat terbentuk apabila adanya jarak, jika kita menampilkan suatu obyek dalam suatu dimensi maka akan terbentuk jarak dalam setiap elemennya. Untuk membuat suatu dimensi diperlukan adanya permainan ruang tajam, permainan gelap terang dan garis.

Sudut Pengambilan Gambar ( Camera Angle )
Dalam fotografi agar foto yang kita hasilkan memiliki nilai dan terkesan indah harus diperhatikan mengenai masalah penggunaan sudut pengambilan gambar yang baik. Dalam fotografi dikenal 3 sudut pengambilan gambar yang mendasar, yaitu:
§   Bird Eye
Sudut pengambilan gambar ini, posisi objek dibawah / lebih rendah dari kita berdiri. Biasanya sudut pengmbilan gambar ini digunakan untuk menunjukkan apa yang sedang dilakukan objek (HI), elemen apa saja yang ada disekitar objek, dan pemberian kesan perbandingan antara overview (keseluruhan)lingkungan dengan POI (Point Of Interest).
§   High Angle
Pandangan tinggi. artinya, pemotret berada pada posisi yang lebih tinggi dari objek foto.
§   Eye Level
Sudut pengembilan gambar yang dimana objek dan kamera sejajar /  sama seperti mata memandang. Biasanya digunakan untuk menghasilkan kesan menyeluruh dan merata terhadap background sebuah objek, menonjolkan sisi ekspresif dari sebuah objek (HI), dan biasanya sudut pemotretan ini juga dimaksudkan untuk memposisikan kamera sejajar dengan mata objek yang lebih rendah dari pada kita missal, anak – anak.
§   Low Angle
Pemotretan dilakukan dari bawah. Sudut pemotretan yang dimana objek lebih tinggi dari posisi kamera. Sudut pengembilan gambar ini digunakan untuk memotret arsitektur sebuah bagunan agar terkesan kokoh, megah dan menjulang. Namu, tidak menutup kemungkinan dapat pula digunakan untuk pemotretan model agar terkesan elegan dan anggun.
§   Frog Eye
Sudut penglihatan sebatas mata katak. Pada posisi ini kamera berada di dasar bawah, hampir sejajar dengan tanah dan tidak dihadapkan ke atas. Biasanya memotret seperti ini dilakukan dalam peperangan dan untuk memotret flora dan fauna.

Field Of View
Beberapa jenis komposisi yang umum digunakan dari segi ukuran (field of view) yang akan diambil adalah sebagai berikut :
a. Extreme Close Up
Pengambilan gambar yang sangat dekat sekali dengan objek, sehingga detil objek seperti pori-pori kulit akan jelas terlihat.
b. Head Shot
Pengambilan gambar sebatas kepala hingga dagu.
c. Close Up
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga bahu.
d. Medium Close Up
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga dada.
e. Mid Shot (setengah badan)
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga pinggang.
f. Medium Shot (Tiga perempat badan)
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga lutut.

g. Full Shot (Seluruh Badan)
Pengambilan gambar dari atas kepala hingga kaki.

h. Long Shot
Pengambilan gambar dengan memberikan porsi background atau foreground lebih banyak sehinnga objek terlihat kecil atau jauh.


Beberapa jenis komposisi dari segi banyaknya manusia sebagai objek yang difoto adalah sebagai berikut :
a. One Shot
Pengambilan gambar untuk satu orang sebagai objek.
b. Two Shot
Pengambilan gambar untuk dua orang sebagai objek.
c. Three Shot
Pengambilan gambar untuk tiga orang sebagai objek.
d. Group Shot
Pengambilan gambar untuk sekelompok orang sebagai objek.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan gambar, diantaranya
v  Headroom, merupakan ruang diatas kepala yang berfungsi membatasi bingkai dan bagian atas kepala objek.
v  Noseroom, arah pandang atau ruang gerak objek dalam sebuah frame, bertujuan untuk memberikan ruang pandang sehingga terkesan bahwa objek memang sedang melihat sesuatu.
v  Foreground, segala sesuatu yang menjadi latar depan dari objek.
v  Background, segala sesuatu yang menjadi latar belakang objek.
TIPS HUNTING
  1. Persiapan Awal
1.    Siapkan kamera dan peralatan lain yang di butuhkan (seperti flash, tripot, filter, dll)
2.    Sebelum memulai hunting rencanankan konsep dan obyek apa yang akan diambil.

  1. Pada Saat Hunting
1.    Ambil semua obyek yang memang ada dilokasi dan pikirkan pula apa yang akan di ceritakan pada foto yang akan diambil.
2.    Untuk pemula, mulailah hunting dengan obyek yang beragam dan dasar, seperti landscape, human interest, portrait, arsitektur,dll. Kemudian menuju jenis-jenis foto yang lebih mengarah ke jurnalistik seperti features, spot, essay dan stories.
  1. Pasca Hunting
1.    Setelah hasil hunting jadi, lakukan evaluasi untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan dari hunting kita.
2.    Yang terpenting, lakukan presentasi foto dan pameran untuk menunjukkan hasilhunting kita ke banyak orang.


Sunday, April 23, 2017

COPY LENS

COPY LENS

BAB I
KETENTUAN UMUM
NAMA, WAKTU DAN KEDUDUKAN

Pasal 1

Komunitas ini bernama lengkap Community of Photography Life, Enjoy and Spirit Society UIN Walisongo Semarang disingkat COPY LENS. Kumunitas fotografi kampus yang merupakan wadah bagi mahasiswa penggemar seni fotografi di kampus UIN Walisongo Semarang.
Pasal 2
  1. Komunitas ini resmi dibentuk pada tanggal 10 April 2013
  2. Komunitas ini berkedudukan di UIN Walisongo Semarang

BAB II
AZAS DAN TUJUAN

Pasal 3

AZAS

Community of Photography Life, Enjoy and Spirit Society UIN Walisongo Semarang (COPY LENS) ini berazaskan pada pancasila dan UUD 1945.

Pasal 4

TUJUAN 
Komunitas ini untuk menghimpun juga sebagai wadah belajar dan berkarya bagi para mahasiswa penggemar fotografi serta untuk mengembangkan kemampuan juga keterampilan mengolah rasa untuk mengukir karya-karya artistik yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara.

BAB III
LAMBANG

Pasal 5



1.Deskripsi Lambang
  • Diafragma, yang dilingkari tulisan Community of Photography dan UIN Walisongo Semarang. Merupakan eksistensi fotografi di kampus UIN Walisongo.
  • Dua tangan,  kanan dan kiri yang lebih menyerupai bulu mata. Menegaskan bahwa komunitas ini akan selalu bergandengan tangan saling menjaga. Dengan dua tangan tersebut juga komunitas ini akan menggapai mimpi-mimpinya.
  • Keseluruhan bentuk seolah nampak seperti mata, memiliki arti ketajaman, ketelitian, focun.

2. Deskripsi Warna
  • Merah (Red)    : Keberanian 
  • Hijau   (Green) :Kesuburan, Kehidupan
  • Biru     (Blue)   : Intelektual atau Pengetahuan
  • Emas  (Gold)   : Kejayaan

3. Deskripsi Tulisan
  • COMMUNITY OF PHOTOGRAPHY : COPY LENS merupakan komunitas fotografi.
  • UIN WALISONGO SEMARANG       : Perguruan tinggi dimana COPY LENS berada
  • COPY                                            : Singkatan dari komunitas fotografi dalam pengucapan Bahasa Inggris yaitu Community of Photography.
  • LENS                                             : Singkatan dari Life, Enjoy and Spirit Society Merupakan jargon komunitas, yang mengandung makna menikmati hidup dan tetap memiliki semangat bersosial.
BAB IV
KEANGGOTAAN

Pasal 6

1. Jenis Anggota 

A. Anggota Aktif
  • Anggota Senior       : Merupakan anggota yang selesai masa kepenguruasannya di COPY LENS
  • Pengurus                : Merupakan anggota yang masih menjabat dalam struktur organisasi kepengurusan COPY LENS.
  • Anggota Balamuda : Merupakan anggota yang baru masuk dalam komunitas dan belum menjabat sebagai pengurus COPY LENS.
B. Anggota non-Aktif
  • Alumni  : Anggota komunitas yang telah menyelesaikan tugas sebagai seorang mahasiswa maupun sebagai anggota COPY LENS.
2. Pengangkatan Anggota

A. Perekrutan Anggota Barun(PAB)
Diadakan setahun satu kali yang bertepatan dengan penerimaan mahasiswa baru di UIN Walisongo Semarang.

B. Malam Keakraban PAB (MAKRAB)
Diadakan setelah Balamuda mengikuti 10 kali pertemuan gathering teknik dasar fotografi yang dibuktikan dengan absen kehadiran.

C.Gelar Karya Balamuda
Merupakan pameran fotografi perdana Balamuda dan menjadi salah satu syarat untuk selanjutnya dilantik sebagai anggota COPY LENS. 

D. Pelantikan Anggota
Pelantikan diadakan setelah anggota baru menyelesaikan tahap gelar karya Balamuda dan berhak mendapatkan Kartu Anggota.

3. Penonaktifan Anggota

Anggota COPY LENS yang tidak aktif dalam kegiatan selama satu semester serta tidak ada kontribusi apapun yang diberikan untuk COPY LENS, maka secara resmi anggota tersebut dinonaktifkan atau dikeluarkan dari komunitas.




SALAM CEKREK CEKREK
semangART


Saturday, December 24, 2016

Jenis jenis fotografi

Jenis jenis fotografi

salam cekrek cekrek .... 
hai gaes para seniman pelukis dengan cahaya terimakasih udah mampir. kali ini saya mau memberi sedikit bahan tentang jenis jenis fotografi. dalam jenis jenis fotografi ini terdapat banyak versi dan ini versi dari saya. tetapi agan jangan takut kalo yang saya berikan ini beda sama yang di paparkan oleh pakar-pakar fotografer atau berbeda dengan yang terdapat dalam buku. karena jenis-jenis ini tidak ada pemaparan yang pasti dan semuanya itu sama-sama benar tidak ada yang salah. naaaah daripada kelamaan langsung saja yuk simak dibawah ini....



  1. Potrait 
  2. Landscape 
  3. Human interes 
  4. Panning 
  5. Lowspeed 
  6. Sport 
  7. Street 
  8. Arsitektur 
  9. Stage photography 
  10. Siluet 
  11. Makro 
  12. strobis 


1.Portrait 
Portrait adalah foto yang menampilkan ekspresi dan karakter manusia dalam kesehariannya. Karakter manusia yang berbeda-beda akan menawarkan image tersendiri dalam membuat foto portrait. Tantangan dalam membuat foto portrait adalah dapat menangkap ekspresi obyek (mimic, tatapan, kerut wajah) yang mampu memberikan kesan emosional dan menciptakan karakter seseorang.
contoh :
 2. Foto Landscape
Foto landscape adalah jenis foto yang begitu popular seperti halnya foto manusia. Foto lanskap merupakan foto bentangan alam yang terdiri dari unsur langit, daratan dan air, sedangkan manusia, hewan, dan tumbuhan hanya sebagai unsur pendukung dalam foto ini. Ekspresi alam serta cuaca menjadi moment utama dalam menilai keberhasilan membuat foto lanskap.
contoh :
 3. Human Interest 
Human Interest dalam karya fotografi adalah menggambarkan kehidupan manusia atau interaksi manusia dalam kehidupan sehari-hari serta ekspresi emosional yang memperlihatkan manusia dengan masalah kehidupannya, yang mana kesemuanya itu membawa rasa ketertarikan dan rasa simpati bagi para orang yang menikmati foto tersebut.
contoh :
 4. Panning
Panning adalah teknik kreatif pemotretan untuk mendapatkan efek gerak pada obyek yang bergerak (balap motor, orang berlari, dll). Hasil dari teknik panning adalah adanya efek motion (gerak) pada latar belakang (background).
contoh :
 5. Slow Speed 
Slow speed adalah kategori kecepatan rendah dalam Shutter speed. Angkanya adalah mulai dari lebih dari 2 detik hingga seper tiga puluh detik (1/30s). Slow Speed biasanya digunakan pada saat kondisi objek, foreground maupun background minim cahaya.
contoh :
 6. Sport 
Foto sport adalah jenis foto yang menangkap aksi menarik dan spektakuler dalam event dan pertandingan olah raga. Jenis foto ini membutuhkan kecermatan dan kecepatan seorang fotografer dalam menangkap momen terbaik.
contoh :
 7. street 
Street photography adalah foto yang memuat objek dan objek tersebut diambil di ruang terbuka publik dalam kondisi candid atau tanpa pengarahan. street photography dapat mengambil lokasi dari berbagai ruang publik seperti jalan,pasar, mall, terminal, stasiun kereta api, dan sebagainya.
contoh :
 8. Foto arsitektur 
Kemanapun anda pergi akan menjumpai bangunan-bangunan dalam berbagai ukuran, bentuk, warna dan desain. Dalam jenis foto ini menampilkan keindahan suatu bangunan baik dari segi sejarah, budaya, desain dan konstruksinya. Memotret suatu bangunan dari berbagai sisi dan menemukan nilai keindahannya menjadi sangat penting dalam membuat foto ini. Foto arsitektur ini tak lepas dari hebohnya dunia arsitektur dan teknik sipil sehingga jenis foto ini menjadi cukup penting peranannya. contoh :
 9. Stage Photography 
Stage Photography adalah semua foto yang menampilkan aktivitas/gaya hidup manusia yang merupakan bagian dari budaya dan dunia entertainment untuk dieksploitasi dan menjadi bahan yang menarik untuk divisualisasikan.
contoh :
 10. Siluet 
Siluet adalah teknik pemotretan untuk menampilkan gambar obyek dalam keadaan gelap. Teknik ini memanfaatkan arah sumber cahaya yang berasal dari balik obyek yang akan kita potret. Teknik ini membutuhkan ketepatan pencahayaan agar obyek yang kita rekam tetap tampil dengan kontur dan ketajaman yang tepat.
contoh :
 11. Makro 
Makro adalah kreatif dalam pemotretan dengan menggunakan lensa makro untuk mendapatkan gambar obyek yang sangat dekat sekali. Foto makro juga digunakan untuk mendapatkan detail dan tekstur pada obyek yang kita potret. Dalam pemotretan makro, ruang tajam akan menjadi sempit sekali oleh karena itu dibutuhkan ketepatan pancahayaan dan focusing. Ketika tidak ada lensa makro untuk melakukan pemotretan ini kita bisa menyiasatinya dengan membalik lensa normal untuk pemotreta makro.
contoh :
 12. Strobis 
Strobist adalah teknik pemakaian flash secara external, jadi tidak digunakan diatas hotshoe kamera, melainkan dengan bantuan trigger, atau Flash yang bisa digunakan sebagai master. Alat wireless trigger ini umumnya menggunakan gelombang radio atau sinar infra merah untuk menyalakan flash slave (flash lain harus mengikuti pada flash utama). Keuntungan dengan menggunakan teknik ini kita bisa memposisikan satu atau lebih flash di mana saja untuk mengatur arah, intensitas, cahaya untuk menghasilkan foto yg kita inginkan.
contoh :




 NB :sekian dulu ya gaes apabila banyak kekurangannya harap dimaklumin aja yaaaa. maklum lah masih amatir alias newbie ... hehehe

salam cekrek cekrek !!!

Teknik Dasar Fotografi

hai gaes maksih udah mampir kemari. lu pasti suka memotret kan ? udah pasti lu suka motret, kalo enggak suka lu enggak bakalan mampir kemari, hehehe.  kalo lu suka motret buktikan terutama ama temen-temen lu kalo lu itu bisa motret dan enggak asal-asalan motret, kalo sekedar motret anak kecil aja mah bisa ! iya nggak gaes ? hehehe dalam memotret itu juga butuh teknik-teknik yang perlu diketahui, dan teknik-teknik itu juga butuh dipelajari ...
naaah gak usah kelamaan ini dia teknik dasar fotografi ...
skarang ini saya bagikan teknik dasar dulu dan jangan lupa ikuti terus jejak gua ya gaes ... hehehe  

Teknik Dasar 

Fotografi
Pokok Bahasan
  1. Pengertian fotografi
  2. Pencahayaan
  3. Aspek Komposisi
  4. Sudut Pandang (anggle)
Apa itu Fotografi ?
Fotografi adalah seni atau suatu proses penghasilan gambar dan cahaya yang dipantulkan oleh objek masuk ke lensa kemudian diteruskan ke bidang film atau layar, sehingga menghasilkan gambar
Pencahayaan
Objek harus memiliki atau dilingkupi cahaya agar dapat diambil gambarnya.
Terdapat berbagai macam tipe cahaya yang menerpa objek. Tipe cahaya:
  1.  Front Lightning  : cahaya berasal dari arah depan objek, sejajar dengan kamera.
  2.  Side Lightning    : cahaya berasal dari arah samping objek.
  3. Back Lightning   : sumber cahaya membelakangi objek, cahaya menghadap arah kamera.
  4.  Hair Lightning   : Sumber cahaya tepat diatas objek foto.
Komposisi

  • Komposisi merupakan susunan dari berbagai objek dalam gambar sehingga kehadirannya dapat membangun atau mengacaukan sebuah gambar.
  • Sebelum mengambil gambar: pandanglah objek dari berbagai sudut: rendah / tinggi, dekat/jauh, berkelilinglah mengitari objek.

Komposisi merupakan perpaduan antara: Posisi,Proporsi, Garis, dll.

  •  Posisi: Mengatur peletakan dari suatu objek, baik melalui pengaturan fasilitas kamera dan sudut pandang maupun pengaturan dari objek.
  • Proporsi: Ketika Anda akan mengambil suatu gambar, cobalah melihat sekeliling objek itu dan tentukan pula tujuan atau pesan yang Anda inginkan saat Anda mengambil gambar tersebut.
  • Garis: mengarahkan mata pada suatu titik pandang tertentu. Garis yang bergelombang dan melengkung memberikan kesan ketenangan, garis tebal dan lurus serta diagonal memberikan kesan dinamis dan memperkuat gambar.
  • Bentuk: menonjolkan bentuk satu sisi dengan penerangan muka, sedangkan untuk penampilan pola pencahayaan belakang lebih baik.
  • Peletakan posisi objek: objek yang ditempatkan tidak ditengah lebih menarik daripada objek diletakkan ditengah.
  • Kesedarhanaan: meniadakan objek yang tidak perlu, latar belakang yang bersih, akan membuat gambar tampak menarik 
     CONTOH : 
     Bentuk
Framming :
Kesederhanaan :
Refleksi :

Diagonal :
Sudut Pandang
Perbedaan sudut pandang memberikan kesan yang berbeda-beda.
  1.  Bird Eye View: sudut pandang pada posisi atas. Menampilkan pola serta detail dari objek jika objek sedang beraktivitas.
  2. Frog Eye View: Sudut pandang dari posisi bawah menampilkan kesan objek menjadi lebih tinggi dan lebih besar.
  3. Straight Eye View: sudut pandang lurus dengan objek yang akan dipotret. Objek direkam secara natural dan apa adanya, tanpa distrosi.

Bird Eye View :

Frog Eye View :

Straight Eye View :


     jangan lupa kritik sarannya ya gaes. dan jangan lupa ikuti terus jejak-jejak gua selanjutnya .. hehehe
     selamat berkarya ya gaes ....

    
   salam cekrek cekrek